Selasa, 27 November 2012

Renungan Hati

Berjalan tertatih-tatih menuju asa di hati,
Walau jejak kaki tidak mampu menyentuh tanah.


Dua bait kalimat di atas memberikan banyak arti kepada setiap orang yang sedang merasakan kegalauan hati, itu  istilahnya bagi anak-anak muda. Akibat kegalauan yang menghampiri jiwa banyak sekali anak-anak  nekat melakukan tindakan yang tidak diperkirakan yaitu bunuh diri. memang tidak semudah membalikan telapak tangan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan hidup, karena seringkali masalah itu muncul di saat pondasi keyakinan manusia itu sedang mengalami keruntuhan. Oleh sebab itu, kita sebagai manusia yang beragama harus selalu siap siaga dalam menjalankan kehidupan di dunia ini, karena terkadang sesuatu yang kita inginkan bisa berubah menjadi sesuatu yang akan memberikan masalah.

Sejak kecil kita telah diajari tentang berbagai sikap, dikenalkan akan hal-hal yang baik maupun tidak. Segala jenis agama baik Islam, Kristen, Budha, Hindu, dan lainnya telah menjelaskan bahwa manusia harus hidup dengan baik karena cobaan akan selalu datang menghampiri disaat kita ingin maupun tidak, karena semua itu ditentukan oleh kekuasaan Tuhan.

Namun, melihat perkembangan jaman, nilai-nilai keagamaan mulai terkikis akibat semakin modernnya kehidupan. Sering kita lihat di media telah terjadi pembunuhan, pemerkosaan, bunuh diri dan tindak kejahatan yang lainnya. oleh sebab itu diperlukan mental yang kuat di dalam diri agar kita bukan menjadi salah satu pelaku kejahatan tersebut.


Sabtu, 03 November 2012

Perbandingan Sistem Ekonomi di Lihat dari Konsepnya


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Sistem ekonomi adalah suatu susunan dari unsur-unsur ekonomi yang saling berhubungan dan bekerja sama sebagai satu kesatuan untuk mencapai tujuan bersama, yaitu terpenuhinya kebutuhan yang bersifat materi.[1]
Kegiatan ekonomi merupakan aktifitas yang amat fundamental sejak keberadaan hidup manusia dimuka bumi.[2] Tanpa kegiatan ekonomi maka manusia dipastikan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup baik kebutuhan primer dan sekunder.
Dewasa ini banyak diketahui berbagai sistem-sistem ekonomi yang dikenalkan kepada masyarakat dunia, seperti sistem ekonomi kapitalis, sosialis dan yang terbaru adalah sistem ekonomi Islam. Semua sistem tersebut memiliki perbedaan-perbedaan yang mengakibatkan dalam proses pengaplikasian sering terjadi permasalahan. Hingga kini pemikir-pemikir masih mencari sistem ekonomi terbaik yang mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat dunia secara menyeluruh tidak hanya berdasarkan golongan-golongan tertentu.

B.  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konsep Sistem Ekonomi Kapitalis?
2.      Bagaimana konsep Sistem Ekonomi Sosialis?
3.      Bagaimana konsep Sistem Ekonomi Islam?
4.      Apa saja perbedaan konsep antara Sistem Ekonomi Kapitalis, Sosialis, dan Islam ?

C.  Tujuan Penulisan
1.      Penulis beserta pembaca mengetahui Konsep Ekonomi Kapitalis.
2.      Penulis beserta pembaca mengetahui Konsep Ekonomi Sosialis.
3.      Penulis beserta pembaca mengetahui Konsep Ekonomi Islam.
4.      Penulis beserta pembaca mengetahui perbedaan konsep ekonomi dari ketiga sistem ini sehingga mampu memilih yang terbaik dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

D.  Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode Research Library dan media Internet sebagai alat pelengkap apabila penulis tidak menemukan buku yang sesuai dengan kebutuhan.


BAB II
PEMBAHASAN
A.  Ekonomi Kapitalis
Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang memberikan kebebasan secara penuh kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan perekonomian seperti memproduksi barang, manjual barang, menyalurkan barang dan lain sebagainya.[3]
Dalam sistem ini pemerintah bisa turut ambil bagian untuk memastikan kelancaran dan keberlangsungan kegiatan perekonomian yang berjalan, tetapi bisa juga pemerintah tidak ikut campur dalam kegiatan ekonomi. Pada suatu sistem ekonomi terdapat berbagai macam konsep sebagai dasar pemahaman sebagai tolak ukur dalam menentukan bagaimana proses ekonomi tersebut. Apabila tidak ada maka perlu dipertanyakan kebenaran sistem tersebut, begitu pula dengan ekonomi kapitalis.
Konsep-konsep dalam ekonomi kapitalis adalah sebagai berikut:[4]
1.    Sumber kekayaan sangat langka.
2.    Setiap pribadi di bebaskan untuk memiliki semua kekayaan yang di perolehnya.
3.    Kepuasan pribadi.
Setiap manusia tidak semuanya memiliki harta kekayaan sejak lahir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Oleh sebab menurut sistem ini manusia harus berusaha/bekerja dalam mendapatkannya. Tidak ada batasan-batasan dalam proses mendapatkan dan  jumlah kekayaan yang harus diperoleh. Setelah memiliki harta kekayaan manusia bebas memanfaatkannya, baik untuk memenuhi kebutuhan primer maupun sekunder. Oleh sebab itu sering terjadi permasalahan yang kaya makin kaya dan yang miskin selamanya tetap miskin. Karena dalam sistem ini kepedulian terhadap orang lain yang tidak mampu bisa dikatakan kecil bahkan hampir tidak ada. Setiap manusia berbondong-bondong mengejar kepuasan untuk memenuhi kebutuhan dan kebahagiaan tidak perduli orang lain menderita oleh perbuatan mereka. Misalkan, Amir adalah seorang tuan tanah yang memiliki uang yang berlimpah. Masyarakat di sekitarnya mayoritas golongan menengah kebawah. Sehingga sering kali mereka meminjam uang kepada Amir untuk memenuhi kebutuhan. setiap bulan mereka harus membayar hutang beserta bunga kepada Amir walau saat itu tidak memiliki uang. Karena, jika tidak membayar Amir tega melakukan pemaksaan dengan tindak kekerasan.  
Dari ilustrasi diatas terlihat bahwa Amir tidak memperdulikan orang lain sedang terkena masalah atau hidup dalam kesusahan. Dipikirannya terpenting uang yang telah ia pinjamkan harus kembali beserta bunga sesuai waktu yang ditentukan. Ini yang bisa dikatakan sebagai sistem kapitalis/individual. Kemudian dalam ekonomi kapitalis menentukan keputusan biasanya oleh orang yang memiliki kekayaan tertinggi seperti pemilik saham diperusahaan.
B.  Ekonomi Sosialis
Sosialis adalah suatu sistem perekonomian yang memberikan kebebasan yang cukup besar kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan ekonomi tetapi dengan campur tangan pemerintah. Pemerintah masuk ke dalam perekonomian untuk mengatur tata kehidupan perekonomian negara serta jenis-jenis perekonomian yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara seperti air, listrik, telekomunikasi, dan sebagainya.[5]
Konsep-konsep yang dimiliki oleh ekonomi sosialis adalah sebagai berikut:[6]
1.    Sumber kekayaan sangat langka
2.    Sumber kekayaan di dapat dari pemberdayaan tenaga kerja (buruh)
3.    Kesetaraan penghasilan di antara kaum buruh
Dari tiga konsep diatas dapat disimpulkan bahwa sumber kekayaan berdasarkan sistem sosialis sangat langka. Masyarakat di dunia belum tentu memiliki harta sejak lahir. Mendapatkan kekayaan menurut sistem ini diperlukan usaha melalui pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) menjadi tenaga kerja (buruh) untuk bekerja di bidang pemanfaatan sumber daya alam (SDA) seperti pertambangan, pertanian, produksi dan sebagainya.
Pemerintah bertanggung jawab mengurus dan mengatur berbagai keputusan untuk memenuhi kebutuhan. Menurut sistem ini sumber daya alam yang ada adalah milik negara walaupun, sumber tersebut berada di halaman rumah masyarakat. Misalnya, ditemukan sumber pertambangan emas di tanah seorang warga. Secara historis karena berada di tanah masyarakat maka hak kepemilikan adalah kepada masyarakat. Tetapi, dalam sistem ini pemerintah yang memilikinya. Pendapatan setiap buruh tidak memiliki perbedaan karena, sistem ekonomi sosialis lebih mementingkan kebersamaan. Walaupun saat itu ada salah satu orang yang bekerja libur tidak mendapatkan penghasilan lebih (insentif) Sehingga, secara tidak langsung kekayaan yang dimiliki dibatasi. Masyarakat diperbolehkan untuk memiliki kekayaan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan tetapi, tetap pemerintah yang menjadi pemilik sepenuhnya. Pembagian kebutuhan kepada masyarakat diberikan secara merata tidak ada yang berbeda. Sehingga, persaingan pasar tidak akan berjalan dengan baik.
C.  Ekonomi Islam
Sistem ekonomi islam adalah suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada ajaran dan nilai-nilai Islam. Sumber dari keseluruhan nilai tersebut sudah tentu Al-Quran, As-Sunnah, Ijma dan Qiyas.[7]
Manusia merupakan makhluk yang diciptakan dengan anugerah akal pikirnya. Dengannya, manusia memiliki kemampuan memilih di antara berbagai pilihan hidup. Dalam hal ini, Allah memang telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan corak kehidupannya. Apakah ia seorang Islam, kapitalis atau sosialis adalah atas pilihan dia. Allah yang memiliki sifat Maha Tahu sebelum dan sesudah kejadian serta dzahir dan bathin tidak pernah memaksa manusia dalam seluruh segi kehidupannya. Tentu saja, kebebasan pilihan yang diberikan kepada manusia bukan berarti tidak memiliki konsekuensi apapun. Allah telah menyediakan banyak pilihan bagi umat manusia, namun Allah pun telah menunjukkan mana pilihan, cara dan jalan kehidupan yang terbaik. Secara fitrah, akal manusia akan mampu menggapai pilihan yang terbaik selama ia gunakan cara yang terbaik pula. Golongan manusia yang berhasil menggunakan cara terbaik dan menentukan pilihan yang baik dijamin oleh Allah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, kesengsaraan dan kerusakan ditimpakan bagi siapa saja yang gagal mendapatkan jalan terang dan lebih memilih jalan kegelapan yaitu kekufuran dan kedzaliman.[8]
Sistem ini memiliki konsep-konsep yang berbeda dengan dua konsep ekonomi diatas konsep itu sebagai berikut:[9]
1.    Sumber Kekayaan alam semesta dari ALLAH SWT
2.    Sumber kekayaan yang kita miliki adalah titipan dari ALLAH SWT
3.    Untuk mencapai ke makmuran/sukses (Al-Falah), di dunia dan akhirat
Ketiga konsep merupakan dasar dalam mengembangkan ekonomi islam. Ketiga konsep ini memiliki perbedaan yang sangat jelas dengan konsep ekonomi kapitalis dan sosialis. Menurut ekonomi islam, sumber kekayaan yang ada di dunia ini seperti kekayaan pribadi, umum, dan negara adalah milik Allah sepenuhnnya sedangkan yang dimiliki manusia hanya sebuah titipan dari Allah. Sebagai tujuan awalnya ekonomi islam hadir sebagai sistem yang memperbaiki sistem yang lebih dahulu dikenal oleh dunia. Jika sistem ekonomi sosialis dan kapitalis hanya mementingkan kebutuhan serta kepuasan selama hidup di dunia dengan berbagai cara yang mungkin suatu saat bisa memberikan masalah kepada orang lain sedangkan ekonomi Islam tidak sperti kedua sistem tersebut. Ekonomi islam memperkenalkan bahwa kekayaan bukan saja sebagai alat memenuhi kebutuhan hidup di dunia tetapi juga sebagai alat untuk mencapai kebahagiaan akhirat apabila digunakan sesuai dengan keadaan/keperluan.
D.  Perbandingan Konsep Ekonomi Kapitalis, Sosialis dan Islam.
Suatu sistem terlebih sistem ekonomi diketahui memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal itu bisa menjadi dasar perbandingan untuk menemukan sistem yang baik dan mampu mengatasi permasalahan ekonomi.
Menurut Marthon, hal-hal yang membedakan ekonomi Islam secara operasional dengan ekonomi sosialis maupun kapitalis adalah:[10]
1.    Dialektika Nilai-nilai Spritualisme dan Materialisme
Sistem perekonomian kontemporer hanya peduli terhadap peningkatan utilitas dan nilai-nilai materialisme suatu barang, tanpa menyentuh nilai-nilai spritualisme dan etika kehidupan masyarakat. Sistem kapitalis memisahkan intervensi agama dari berbagai kegiatan dan kebijakan ekonomi, padahal pelaku ekonomi merupakan penggerak utama bagi perkembangan peradaban dan perekonomian masyarakat. Sedangkan ekonomi islam dalam kegiatan ekonomi, khususnya transaksi harus berdasarkan keseimbangan dari keduanya.[11]
2.    Kebebasan berekonomi
Kapitalisme menekankan prinsip persamaan bagi setiap individu masyarakat dalam kegiatan ekonomi secara bebas untuk meraih kekayaan. Realita konsep kebebasan tersebut menimbulkan keracunan bagi proses distribusi pendapatan dan kekayaan. Selain itu sistem tersebut secara otomatis mengklasifikasikan masyarakat menjadi dua bagian, yaitu pemilik modal dan para pekerja. Dalam konsep sosialisme masyarakat tidak mempunyai kebebasan sedikitpun dalam melakukan kegiatan ekonomi. kepemilikan individu dihilangkan dan tidak ada kebebasan untuk melakukan transaksi dalam kesepakatan perdagangan. Ekonomi islam tidak menafikan intervensi pemerintah. Kebijakansanaan pemerintah merupakan sebuah keniscayaan ketika perekonomian dalam kondisi darurat, selama hal ini dibenarkan secara syara. Pada sisi lain kepemilikan dan kebebasan individu dibenarkan sepanjang tetap pada koridor syariah.[12]
3.    Dualisme Kepemilikan
Hakikatnya pemilik alam semesta beserta isinya hanyalah Allah semata. Manusia hanya wakil Allah dalam rangka memakmurkan dan mensejahterakan bumi. Untuk itu, setiap langkah dan kebijakan ekonomi yang diambil oleh manusia untuk memakmurkan alam semesta tidak boleh bertentangan dengan ketentuan yang digariskan oleh Allah yang Maha Memiliki. Konsep keseimbangan merupakan karakteristik dasar ekonomi Islam, karena Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan seimbang. Salah satu wujud keseimbangan kepemilikan manusia adalah adanya kepemilikan publik sebagai pemyeimbang kepemilikan individu. [13]
Berbeda dengan kepemilikan kapitalis, sistem ini hanya mengenal bahwa kepemilikan itu bersifat mutlak milik pribadi. Sedangkan ekonomi sosialis kepemilikan itu masih bersifat terbatas.
Terlihat sepintas ekonomi Islam adalah suatu sistem ekonomi yang ditunggu selama ini untuk memperbaiki permasalahan ekonomi di dunia akibat kesalahan-kesalahan sistem terdahulu. Namun perlu digaris bawahi bahwa sistem ini tergolong baru muncul setelah meredup lama. Jadi diperlukan pembaharuan atau penyesuaian agar lebih mampu bersaing bahkan mengganti sistem ekonomi yang lain.







BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Sistem Ekonomi Kapitalis adalah suatu sistem yang mengatur perekonomian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan aspek kebebasan tiada yang menghalangi.
Sistem Ekonomi Sosialis adalah suatu sistem yang mengatur perekonomian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang aturan itu ditetapkan oleh negara sebagai penguasa dalam mengambil keputusan dan pembagian hasil kekayaan.
Sistem ekonomi Islam adalah suatu sistem ekonomi yang mengatur perekonomian untuk memenihi kebutuhan sehari-hari yang dalam proses kerjanya sesuai dengan ajaran syariat Islam.
Perbedaan konsep ekonomi antara ketiga sistem ini adalah dilihat dari Sumber Kekayaan, Kepemilikan, dan  Tujuan Gaya Hidup perorangan seperti berikut:
1.    Kapitalis
a.    Sumber kekayaan sangat langka.
b.    Setiap pribadi di bebaskan untuk memiliki semua kekayaan yang di perolehnya.
c.    Kepuasan pribadi.
2.    Sosialis
a.    Sumber kekayaan sangat langka.
b.    Sumber kekayaan di dapat dari pemberdayaan tenaga kerja (buruh).
c.    Kesetaraan penghasilan di antara kaum buruh.
3.    Islam
a.    Sumber Kekayaan alam semesta dari ALLAH SWT
b.    Sumber kekayaan yang kita miliki adalah titipan dari ALLAH SWT
c.    Untuk mencapai ke makmuran/sukses (Al-Falah), di dunia dan akhirat
B.  Saran
Kita sebagai calon sarjana Ekonomi Syariah harus mampu memperkenalkan sistem ekonomi yang telah kita pelajari selama ini melalui pengaplikasian terhadap diri sendiri.






DAFTAR PUSTAKA

Apridar,  Teori Ekonomi Sejarah dan zperkembangannya. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010
Nasution, Mustafa Edwin. Pengenalan Ekslusif: Ekonomi Islam. Jakarta: Kencana, 2007
Http://organisasi.org/Online. Minggu, 18 Maret 2012. Pukul 16.00 WIB.
Http//inayafrifa.wordpress.com/2011/11/29/sistem-ekonomi-liberal/Online Minggu, 18 Maret 2012. Pukul 16.00 WIB.
Http://nibrahosen.multiply.com/journal/item/16/Perbedaan_Ekonomi_kapitalis-Islam dan Sosialis.?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem/Online. Minggu, 18 Maret 2012. Pukul 16.00 WIB.








Kamis, 01 November 2012


Assalamualaikum Wr. Wb
Alhamdullillah kita ketemu lagi, biasanya postingan di dalam blog ini makalah-makalah yang berhubungan dengan jurusan ekonomi Islam. kali ini mungkin aku ingin mengenalkan sisi lain dari kehidupanku.
Aku sekarang masih kuliah di STAIN Palangkaraya, hobby aku saat ini masih tetap sama yaitu olahraga, dari sekian banyak macam olahraga aku suka banget istilahnya sudah melekat adalah taekwondo dan volly. Dari dua cabang olahraga tersebut banyak prestasi-prestasi yang sudah aku raih walaupun tidak terlalu terkenal atau masih di dalam skala kecil. Ini catatan prestasi yang pernah aku raih :
1.    Juara 1 Junior Taekwondo Tingkat Daerah Tahun 2007
2.    Juara 2 Taekwondo Walikota Cup Tahun 2010
3.    Juara 3 Taekwondo Porprov Tahun 2010
4.    Juara 1 Senior dan Atlit senior terbaik Tingkat Daerah Tahun 2012
5.    Masuk Perempat final kejuaran Yuti Se- Kalimantan 2012
6.    Masuk Perempat Final Kejuaraan Internasional di Bali 2012

Walaupun sering dapat juara, orang tuaku belum sepenuhnya menyetujui jika hidupku hanya sebagai atlit, akhirnya dengan berat hati mulai tahun ini terpaksa dengan berat hati aku menggantung Dobok (Baju latihan Taekwondo) . Sedih ya,,,, tapi mau gimana lagi semua dilakukan demi kebaikanku, maklum sudah sering sakit-sakit jika selesai kejuaraan :)
ini beberapa kenangan yang masih aku simpan sampai sekarang,,


Ini waktu aku dapat juara 1 dan atlit senior terbaik di dalam kejuaraan ini,  bahagia banget seperti mendapat berbagai hadiah sekali dapat padahal persiapannya cuma sebenarnya. Heheheeee :D


Ini foto setelah penyerahan mendali di Banjarmasin, walau aku cuma sebagai pelengkap karena yang di sebelahku yang mendapatkan mendali perak. Hiks-hiks sedih banget.

aku berharap masih bisa memakai dobok dan berlaga dilapangan membawa nama daerah dan mengharumkan nama bangsa tapi kelihatannya sudah tidak mungki,, hiks,hiks,

cukup postingan kali ini kapan-kapan aku masukkan makalah-makalah yang lain kita berbagi ilmu walau tidak banyak,, 

Selasa, 30 Oktober 2012

Lingkungan Eksternal Organisasi


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Klasifikasi Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal sebuah organisasi atau perusahaan sangat luas dan memiliki berbagai faktor yang turut mendukung. Sehingga sangat tidak mungkin seorang ahli strategi hanya mempelajari sebagian kecilnya saja. Karena, jika tidak mempelajari secara keseluruhan maka pembuatan strategi tidak akan sesuai dengan apa yang diharapkan.
Lingkungan eksternal dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian besar antara lain yaitu: [1]
1.    Lingkungan umum adalah sekumpulan elemen-elemen dalam masyarakat yang lebih luas yang mempengaruhi suatu industri dan perusahaan-perusahaan yang ada di dalamnya. Secara lebih lanjut lingkungan umum/eksternal terbagi menjadi 2 pokok bagian lagi yaitu: [2]
a.    Lingkungan Eksternal Jauh
Dikatakan jauh karena faktor-faktor eksternal tersebut bersumber dari luar organisasi dan biasanya timbul terlepas dari situasi operasional yang dihadapi oleh perusahaan yang bersangkutan akan tetapi mempunyai dampak pada proses manajerial dan operasional dalam organisasi (perusahaan). Faktor-faktor tersebut antara lain: [3]
1)   Pertimbangan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi di dunia selalu berbanding lurus dengan perubahan lingkungan. Terkadang ada pihak yang ingin meningkatkan mutu hidup manusia dengan memperbanyak perusahaan dan di lain pihak ada yang ingin melestarikan lingkungan. Sehingga sering terjadi perbedaan pendapat di antara kedua belah pihak yang menyebabkan proses produksi terhenti.
c)    Kehadiran korporasi multinasional.
Maksudnya adalah ada pihak-pihak asing yang masuk ke pasar nasional sehingga secara tidak langsung merusak perekonomian masyarakat atau perusahaan kecil. Sehingga diperlukan keputusan strategik untuk menghindari dampak yang besar dari permasalahan itu.
d)   Kejutan dibidang energi
Sebelum dekade tujuh puluhan manusia masih menikmati energi dengan harga yang murah. Pada masa itu manusia tidak sadar bahwa sumber energi tersebut sangat terbatas dan penggunaannya sangat boros. Pada era sekarang setelah menipis negara-negara penghasil sumber energi tersebut mulai menaikan harga dengan sangat drastis. Sehingga, manusia harus mulai memikirkan sumber energi alternatif agar kelangsungan usahanya dapat bertahan.
e)    Pendanaan.
Setiap usahawan harus menyadari kemampuan untuk mempertahankan eksistensi perusahaannya, belum berbicara masalah pertumbuhan dan perkembangan usahanya. Oleh sebab itu, untuk menghindari berhentinya kegiatan produksi sebelum tujuan tercapai usahawan harus memiliki modal yang cukup.
2)   Faktor-faktor politik.
Maksud dari faktor politik ini adalah jika disuatu daerah atau negara sedang mengalami permasalahan yang mengganggu perekonomian maka perusahan akan memikirkan cara yang tepat dalam memasarkan produknya.
3)   Faktor-faktor sosial.
Setiap daerah di suatu negara contohnya Indonesia memiliki tingkat sosial yang berbeda menyebabkan kebutuhan diantara mereka sangat berbeda. Sehingga perusahaan harus bisa menciptakan suatu barang atau jasa yang mampu memberikan manfaat ke semua golongan demi mendapatkan keuntungan yang besar.
4)   Faktor teknologi.
Faktor ini berpengaruh terhadap manajemen strategi karena dengan teknologi perusahaan akan lebih terbantu baik dari segi pelayanan, pemasaran, dan produksi. Kemudian konsumen akan lebih percaya terhadap perusahaan yang telah memiliki teknologi yang baik karena mutu yang ditawarkan lebih terjamin.
b.    Lingkungan Eksternal Dekat
Lingkungan eksternal dekat memiliki dampak langsung pada operasionalisasi berbagai strategi dan kebijaksanaan suatu perusahaan baik dari suasana kompetitif, peluang, khususnya perolehan sumber dana. Bedanya dengan lingkungan eksternal jauh adalah faktor-faktor lingkungan eksternal dekat pada umumnya dapat dikendalikan, atau paling sedikit dipengaruhi oleh organisasi/perusahaan yang bersangkutan. Faktor-faktor tersebut antara lain :
1)   Kedudukan kompetitif perusahaan.
Dalam kondisi dan iklim persaingan suatu perusahaan perlu melakukan analisis terhadap kedudukannya baik dari segi kelemahan, keunggulan perusahaan sendiri maupun perusahaan saingan. Dengan mengetahui kedudukannya para perumus strategi diharapkan dapat mengambil langkah-langkah yang memungkinkan memanfaatkan peluang yang timbul dalam kondisi yang dihadapi.
2)   Profil para pelanggan.
Suatu perusahaan yang menghasilkan barang atau jasa berupaya menghasilkan produk yang diminati oleh sekelompok masyarakat. Tetapi karena faktor-faktor tertentu, minat masyarakat berbeda dari yang dipikirkan perusahaan. oleh sebab itu perusahaan harus mengetahui dan mempelajari faktor penyebabnya. Faktor-faktor tersebut seperti Geografi (letak wilayah), Demografi (struktur sosial),  dan Psikografi (kejiwaan pelanggan).
3)   Perilaku pembeli
Manusia sebagai pembeli produk terttentu pasti menggunakan berbagai pertimbangan dalam membeli atau tidak membeli produk tertentu. Baik dari segi harga, manfaat barang, kualitas, mutu dan pelayanan yang ditawarkan produsen. Yang jelas perilaku pembeli tidak pernah konsisten sehingga profil para pembeli dan calon pembeli perlu dikenali dengan baik.
4)   Faktor pemasok
Posisi pemasok ini perlu dikenali dengan baik karena banyak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan satu sektor produksi, khususnya sektor dimana satu perusahaan itu bergerak. Pemasok ini bukan hanya berkaitan kepada bahan mentah tetapi juga dengan peralatan, pelayanan dan dukungan finansial. Apabila perusahaan tersebut memelihara keserasiannya maka sebagai usahawan akan mendapatkan kemudahan untuk memenuhi kebutuhannya.
5)   Faktor penyandang dana
Secara penglihatan dasar suatu perusahaan atau organisasi tidak akan berdiri dan berkembang apabila perusahaan tersebut tidak memiliki pihak-pihak yang memberikan dana secara berkesinambungan. Apabila dana yang masuk ke dalam perusahaan terhambat maka akan menyebabkan proses kegiatan produksi terhenti. Untuk menghindari hal itu terjadi maka suatu perusahaan harus memiliki cara yang tepat agar dana yang ada di dalam perusahaan tersebut stabil.
6)   Situasi pasaran kerja sebagai faktor lingkungan.
Sumber daya manusia merupakan unsur terpenting dan paling menentukan dalam berhasil tidaknya suatu organisasi/perusahaan. betapapun pentingnya perhatian yang harus diberikan kepada unsur lain seperti modal, peralatan, mesin, metode kerja, bahan mentah, dan bahan baku perhatian terbesar tetap harus diberikan kepada unsur manusia. Semua proses manajemen sumber daya manusia harus ditempuh secara benar dan tepat yang kesemuannya berangkat dari pengakuan dan penghargaan atas harkat dan martabat manusia. Manajemen sumber daya manusia menyangkut perencanaan ketenagakerjaan, penciptaan dan pemeliharaan sistem informasi manusia, rekrutmen, seleksi, orientasi dan penempatan, sistem imbalan, pendidikan dan pelatihan, perencanaan dan pengembangan karier, pemutusan hubungan kerja, pemeliharaan hubungan industrial dan pemensiunan.
7)   Peramalan Lingkungan
Perkembangan dan pertumbuhan dalam lingkungan bisnis tidak dapat ditebak dengan mudah terkadang naik, terkadang turun. Sehingga para ahli strategi harus benar-benar bisa membaca pergerakan ekonomi pada saat itu dan dimasa yang akan datang. Apabila salah dan tidak memiliki strategi cadangan maka, perusahaan yang dipegangnya tidak akan mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan lainnya.
2.    Lingkungan Industri
Industri adalah kelompok perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang atau jasa serupa. Menurut Michael E. Porter hal-hal yang harus dilihat atau menjadi dasar analisis  adalah sebagai berikut:[4]
a.    Ancaman Pelaku Bisnis
Bila suatu perusahaan masuk ke dalam sebuah industri, maka secara otomatis perusahaan yang sudah ada akan terancam, karena ada kapasitas baru yang bertambah serta kemungkinan digerogotinya pangsa pasar yang ada dan akan membuat tambahan permintaan pasokan atas sumber daya seperti SDM, ataupun bahan baku. Semua ini akan menggangu perusahaan-perusahaan yang sudah ada terlebih dahulu di dalam industri.
b.    Ancaman Produk Substitusi
Persaingan yang harus dihadapi oleh sebuah perusahaan, bukanlah kepada perusahaan yang memiliki produk yang persis sama. Sering kali perusahaan harus berhadapan dengan perusahaan-perusahaan yang produknya merupakan substitusi dari produk perusahaan pertama. Seperti juga kita lihat pada ancaman produk baru, ancaman produk substitsi juga memiliki beberapa kondisi. Misalnya: skala ekonomis, Switching cost, akses ke saluran distribusi.
c.    Daya Tawar-Menawar Pembeli
Pembeli yang memiliki daya tawar-menawar yang tinggi, dapat mengancam daya saing perusahaan. pembeli ini biasanya bisa memaksa perusahaan untuk menurunkan hagaatau menuntut meningkatkan kualitas produk/jasa dan lain-lain. Kondisi yang menentukan daya tawar pembeli menjadi tinggi antara lain:
1)   Membeli dalam jumlah besar.
2)   Produk yang dibeli adalah standar.
3)   Switching cost
4)   Produk dari industri kurang begitu penting bagi pembeli.
5)   Pembeli memiliki informasi yang lengkap
d.   Daya Tawar-Menawar Pemasok
Bila pemasok memiliki daya tawar yang semakin kuat, maka dapat kita katakan semakin kurang menariknya industri. Ini biasanya, terjadi pada industri yang pemasoknya tergolong sedikit, yaitu hanya beberapa perusahaan. perusahaan yang ada dalam industri, relatif tidak memiliki banyak alternatif untuk mendapat pasokan tertentu. Biasanya daya tawar menawar kelompok pemasok kuat jika:
1)   Hanya didominasi oleh sedikit perusahaan, sementara industri pembelinya beragam.
2)   Industri pembeli bukan merupakan pelanggan penting dari kelompok pemasok.
3)   Produk pemasok merupakan input penting bagi pembeli.
Semakin tinggi daya tawar pemasok, maka semakin rendah daya tarik (attractiveness) sebuah industri.
e.    Tingkat persaingan dalam Industri
Tindakan-tindakan perusahaan dalam sebuah industri selalu saling terkait. Strategi-strategi yang dijalankan oleh suatu perusahaan pasti memberi dampak baik atau buruk kepada perusahaan lain sehingga menyebabkan intensitas persaingan menjadi lebih tinggi. Tingkat persaingan ini tidak hanya disebabkan oleh jumlah pelaku yang ada di dalam industri tetapi  juga terpengaruh dari pesaing yang memiliki kekuatan relatif sama baik dari segi pendanaan, kualitas produk, dan lain-lain.
B.       Manfaat Mengetahui Lingkungan Eksternal
Keberhasilan organisasi atau perusahaan sangat ditentukan oleh kemampuan dalam menentukan strategi yang tepat. Karena, apabila tidak memiliki strategi proses produksi akan terhambat. Selain itu pengenalan lingkungan eksternal secara tepat semakin penting karena:[5]
1.    Jumlah faktor-faktor yang berpengaruh itu tidak pernah konstan melainkan selalu berubah.
2.    Intensitas dampaknya beragam.
3.    Ada faktor-faktor eksternal yang merupakan “kejutan” yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya betapapun cermatnya analisis yang dilakukan.
4.    Kondisi eksternal itu berada di luar kemampuan organisasi untuk mengendalikannya.


BAB III
PENUTUP


A.      Kesimpulan
Lingkungan eksternal merupakan salah faktor yang mempengaruhi dalam proses pembuatan dan penerapan strategi di dalam organisasi atau perusahaan selain lingkungan internal perusahaan itu sendiri. Klasifikasi lingkungan eksternal dibagi menjadi dua yaitu:
1.    Lingkungan Umum
a.       Lingkungan eksternal jauh.
b.      Lingkungan eksternal dekat.
2.    Lingkungan Industri
Lingkungan eksternal sangat bebas tidak dapat dikontrol dengan mudah tetapi sedikit bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang telah dimiliki. Strategi terbaik  akan terbentuk jika perusahaan melakukan analisis terhadap perkembangan dunia luar dengan sangat teliti. Apabila organisasi atau perusahaan tidak memiliki suatu strategi yang baik maka tidak mungkin perusahaan itu mampu bertahan menghadapi kerasnya dunia bisnis yang pada era sekarang selalu berkembang setiap saat.  Oleh sebab itu, perusahaan harus memperhatikan dan mempelajari lingkungan eksternal lebih dulu sebelum menentukan strategi.

B.  Saran
Sebagai mahasiswa Ekonomi Syariah kita harus mempelajari lingkungan eksternal lingkungan kerja dengan baik. Karena setelah lulus diharapkan mampu membuat strategi yang baik untuk sesuai permintaan pekerjaan yang akan ditekuni.





DAFTAR PUSTAKA

Amir, M. Taufiq, Manajemen Strategik : Konsep dan Aplikasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011.
P. Siagian, Sondang, Manajemen Stratejik, Jakarta: Bumi Aksara, 2000.
Http://www.ut.ac.id/html/suplemen/ekma4111/lingkungan_eksternal di akses 26 September 2012, Pukul 19.00 WIB.
Http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/01/19/lingkungan-eksternal/ di akses 26 September 2012, Pukul 19 WIB.




[1]Http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/01/19/lingkungan-eksternal/ di akses 26 September 2012 Pukul 19.00 WIB.
[2] Sondang P. Siagian, Manajemen Stratejik, Jakarta: Bumi Aksara, 2000, h. 63.
[3] Ibid., h. 64.
[4] M. Taufiq Amir, Manajemen Strategik : Konsep dan Aplikasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011, h. 52.
[5] Sondang P. Siagian, Manajemen Stratejik, h. 63.

Template by:

Free Blog Templates