Sabtu, 03 November 2012

Perbandingan Sistem Ekonomi di Lihat dari Konsepnya


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Sistem ekonomi adalah suatu susunan dari unsur-unsur ekonomi yang saling berhubungan dan bekerja sama sebagai satu kesatuan untuk mencapai tujuan bersama, yaitu terpenuhinya kebutuhan yang bersifat materi.[1]
Kegiatan ekonomi merupakan aktifitas yang amat fundamental sejak keberadaan hidup manusia dimuka bumi.[2] Tanpa kegiatan ekonomi maka manusia dipastikan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup baik kebutuhan primer dan sekunder.
Dewasa ini banyak diketahui berbagai sistem-sistem ekonomi yang dikenalkan kepada masyarakat dunia, seperti sistem ekonomi kapitalis, sosialis dan yang terbaru adalah sistem ekonomi Islam. Semua sistem tersebut memiliki perbedaan-perbedaan yang mengakibatkan dalam proses pengaplikasian sering terjadi permasalahan. Hingga kini pemikir-pemikir masih mencari sistem ekonomi terbaik yang mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat dunia secara menyeluruh tidak hanya berdasarkan golongan-golongan tertentu.

B.  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana konsep Sistem Ekonomi Kapitalis?
2.      Bagaimana konsep Sistem Ekonomi Sosialis?
3.      Bagaimana konsep Sistem Ekonomi Islam?
4.      Apa saja perbedaan konsep antara Sistem Ekonomi Kapitalis, Sosialis, dan Islam ?

C.  Tujuan Penulisan
1.      Penulis beserta pembaca mengetahui Konsep Ekonomi Kapitalis.
2.      Penulis beserta pembaca mengetahui Konsep Ekonomi Sosialis.
3.      Penulis beserta pembaca mengetahui Konsep Ekonomi Islam.
4.      Penulis beserta pembaca mengetahui perbedaan konsep ekonomi dari ketiga sistem ini sehingga mampu memilih yang terbaik dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

D.  Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode Research Library dan media Internet sebagai alat pelengkap apabila penulis tidak menemukan buku yang sesuai dengan kebutuhan.


BAB II
PEMBAHASAN
A.  Ekonomi Kapitalis
Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang memberikan kebebasan secara penuh kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan perekonomian seperti memproduksi barang, manjual barang, menyalurkan barang dan lain sebagainya.[3]
Dalam sistem ini pemerintah bisa turut ambil bagian untuk memastikan kelancaran dan keberlangsungan kegiatan perekonomian yang berjalan, tetapi bisa juga pemerintah tidak ikut campur dalam kegiatan ekonomi. Pada suatu sistem ekonomi terdapat berbagai macam konsep sebagai dasar pemahaman sebagai tolak ukur dalam menentukan bagaimana proses ekonomi tersebut. Apabila tidak ada maka perlu dipertanyakan kebenaran sistem tersebut, begitu pula dengan ekonomi kapitalis.
Konsep-konsep dalam ekonomi kapitalis adalah sebagai berikut:[4]
1.    Sumber kekayaan sangat langka.
2.    Setiap pribadi di bebaskan untuk memiliki semua kekayaan yang di perolehnya.
3.    Kepuasan pribadi.
Setiap manusia tidak semuanya memiliki harta kekayaan sejak lahir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Oleh sebab menurut sistem ini manusia harus berusaha/bekerja dalam mendapatkannya. Tidak ada batasan-batasan dalam proses mendapatkan dan  jumlah kekayaan yang harus diperoleh. Setelah memiliki harta kekayaan manusia bebas memanfaatkannya, baik untuk memenuhi kebutuhan primer maupun sekunder. Oleh sebab itu sering terjadi permasalahan yang kaya makin kaya dan yang miskin selamanya tetap miskin. Karena dalam sistem ini kepedulian terhadap orang lain yang tidak mampu bisa dikatakan kecil bahkan hampir tidak ada. Setiap manusia berbondong-bondong mengejar kepuasan untuk memenuhi kebutuhan dan kebahagiaan tidak perduli orang lain menderita oleh perbuatan mereka. Misalkan, Amir adalah seorang tuan tanah yang memiliki uang yang berlimpah. Masyarakat di sekitarnya mayoritas golongan menengah kebawah. Sehingga sering kali mereka meminjam uang kepada Amir untuk memenuhi kebutuhan. setiap bulan mereka harus membayar hutang beserta bunga kepada Amir walau saat itu tidak memiliki uang. Karena, jika tidak membayar Amir tega melakukan pemaksaan dengan tindak kekerasan.  
Dari ilustrasi diatas terlihat bahwa Amir tidak memperdulikan orang lain sedang terkena masalah atau hidup dalam kesusahan. Dipikirannya terpenting uang yang telah ia pinjamkan harus kembali beserta bunga sesuai waktu yang ditentukan. Ini yang bisa dikatakan sebagai sistem kapitalis/individual. Kemudian dalam ekonomi kapitalis menentukan keputusan biasanya oleh orang yang memiliki kekayaan tertinggi seperti pemilik saham diperusahaan.
B.  Ekonomi Sosialis
Sosialis adalah suatu sistem perekonomian yang memberikan kebebasan yang cukup besar kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan ekonomi tetapi dengan campur tangan pemerintah. Pemerintah masuk ke dalam perekonomian untuk mengatur tata kehidupan perekonomian negara serta jenis-jenis perekonomian yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara seperti air, listrik, telekomunikasi, dan sebagainya.[5]
Konsep-konsep yang dimiliki oleh ekonomi sosialis adalah sebagai berikut:[6]
1.    Sumber kekayaan sangat langka
2.    Sumber kekayaan di dapat dari pemberdayaan tenaga kerja (buruh)
3.    Kesetaraan penghasilan di antara kaum buruh
Dari tiga konsep diatas dapat disimpulkan bahwa sumber kekayaan berdasarkan sistem sosialis sangat langka. Masyarakat di dunia belum tentu memiliki harta sejak lahir. Mendapatkan kekayaan menurut sistem ini diperlukan usaha melalui pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) menjadi tenaga kerja (buruh) untuk bekerja di bidang pemanfaatan sumber daya alam (SDA) seperti pertambangan, pertanian, produksi dan sebagainya.
Pemerintah bertanggung jawab mengurus dan mengatur berbagai keputusan untuk memenuhi kebutuhan. Menurut sistem ini sumber daya alam yang ada adalah milik negara walaupun, sumber tersebut berada di halaman rumah masyarakat. Misalnya, ditemukan sumber pertambangan emas di tanah seorang warga. Secara historis karena berada di tanah masyarakat maka hak kepemilikan adalah kepada masyarakat. Tetapi, dalam sistem ini pemerintah yang memilikinya. Pendapatan setiap buruh tidak memiliki perbedaan karena, sistem ekonomi sosialis lebih mementingkan kebersamaan. Walaupun saat itu ada salah satu orang yang bekerja libur tidak mendapatkan penghasilan lebih (insentif) Sehingga, secara tidak langsung kekayaan yang dimiliki dibatasi. Masyarakat diperbolehkan untuk memiliki kekayaan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan tetapi, tetap pemerintah yang menjadi pemilik sepenuhnya. Pembagian kebutuhan kepada masyarakat diberikan secara merata tidak ada yang berbeda. Sehingga, persaingan pasar tidak akan berjalan dengan baik.
C.  Ekonomi Islam
Sistem ekonomi islam adalah suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada ajaran dan nilai-nilai Islam. Sumber dari keseluruhan nilai tersebut sudah tentu Al-Quran, As-Sunnah, Ijma dan Qiyas.[7]
Manusia merupakan makhluk yang diciptakan dengan anugerah akal pikirnya. Dengannya, manusia memiliki kemampuan memilih di antara berbagai pilihan hidup. Dalam hal ini, Allah memang telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan corak kehidupannya. Apakah ia seorang Islam, kapitalis atau sosialis adalah atas pilihan dia. Allah yang memiliki sifat Maha Tahu sebelum dan sesudah kejadian serta dzahir dan bathin tidak pernah memaksa manusia dalam seluruh segi kehidupannya. Tentu saja, kebebasan pilihan yang diberikan kepada manusia bukan berarti tidak memiliki konsekuensi apapun. Allah telah menyediakan banyak pilihan bagi umat manusia, namun Allah pun telah menunjukkan mana pilihan, cara dan jalan kehidupan yang terbaik. Secara fitrah, akal manusia akan mampu menggapai pilihan yang terbaik selama ia gunakan cara yang terbaik pula. Golongan manusia yang berhasil menggunakan cara terbaik dan menentukan pilihan yang baik dijamin oleh Allah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, kesengsaraan dan kerusakan ditimpakan bagi siapa saja yang gagal mendapatkan jalan terang dan lebih memilih jalan kegelapan yaitu kekufuran dan kedzaliman.[8]
Sistem ini memiliki konsep-konsep yang berbeda dengan dua konsep ekonomi diatas konsep itu sebagai berikut:[9]
1.    Sumber Kekayaan alam semesta dari ALLAH SWT
2.    Sumber kekayaan yang kita miliki adalah titipan dari ALLAH SWT
3.    Untuk mencapai ke makmuran/sukses (Al-Falah), di dunia dan akhirat
Ketiga konsep merupakan dasar dalam mengembangkan ekonomi islam. Ketiga konsep ini memiliki perbedaan yang sangat jelas dengan konsep ekonomi kapitalis dan sosialis. Menurut ekonomi islam, sumber kekayaan yang ada di dunia ini seperti kekayaan pribadi, umum, dan negara adalah milik Allah sepenuhnnya sedangkan yang dimiliki manusia hanya sebuah titipan dari Allah. Sebagai tujuan awalnya ekonomi islam hadir sebagai sistem yang memperbaiki sistem yang lebih dahulu dikenal oleh dunia. Jika sistem ekonomi sosialis dan kapitalis hanya mementingkan kebutuhan serta kepuasan selama hidup di dunia dengan berbagai cara yang mungkin suatu saat bisa memberikan masalah kepada orang lain sedangkan ekonomi Islam tidak sperti kedua sistem tersebut. Ekonomi islam memperkenalkan bahwa kekayaan bukan saja sebagai alat memenuhi kebutuhan hidup di dunia tetapi juga sebagai alat untuk mencapai kebahagiaan akhirat apabila digunakan sesuai dengan keadaan/keperluan.
D.  Perbandingan Konsep Ekonomi Kapitalis, Sosialis dan Islam.
Suatu sistem terlebih sistem ekonomi diketahui memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal itu bisa menjadi dasar perbandingan untuk menemukan sistem yang baik dan mampu mengatasi permasalahan ekonomi.
Menurut Marthon, hal-hal yang membedakan ekonomi Islam secara operasional dengan ekonomi sosialis maupun kapitalis adalah:[10]
1.    Dialektika Nilai-nilai Spritualisme dan Materialisme
Sistem perekonomian kontemporer hanya peduli terhadap peningkatan utilitas dan nilai-nilai materialisme suatu barang, tanpa menyentuh nilai-nilai spritualisme dan etika kehidupan masyarakat. Sistem kapitalis memisahkan intervensi agama dari berbagai kegiatan dan kebijakan ekonomi, padahal pelaku ekonomi merupakan penggerak utama bagi perkembangan peradaban dan perekonomian masyarakat. Sedangkan ekonomi islam dalam kegiatan ekonomi, khususnya transaksi harus berdasarkan keseimbangan dari keduanya.[11]
2.    Kebebasan berekonomi
Kapitalisme menekankan prinsip persamaan bagi setiap individu masyarakat dalam kegiatan ekonomi secara bebas untuk meraih kekayaan. Realita konsep kebebasan tersebut menimbulkan keracunan bagi proses distribusi pendapatan dan kekayaan. Selain itu sistem tersebut secara otomatis mengklasifikasikan masyarakat menjadi dua bagian, yaitu pemilik modal dan para pekerja. Dalam konsep sosialisme masyarakat tidak mempunyai kebebasan sedikitpun dalam melakukan kegiatan ekonomi. kepemilikan individu dihilangkan dan tidak ada kebebasan untuk melakukan transaksi dalam kesepakatan perdagangan. Ekonomi islam tidak menafikan intervensi pemerintah. Kebijakansanaan pemerintah merupakan sebuah keniscayaan ketika perekonomian dalam kondisi darurat, selama hal ini dibenarkan secara syara. Pada sisi lain kepemilikan dan kebebasan individu dibenarkan sepanjang tetap pada koridor syariah.[12]
3.    Dualisme Kepemilikan
Hakikatnya pemilik alam semesta beserta isinya hanyalah Allah semata. Manusia hanya wakil Allah dalam rangka memakmurkan dan mensejahterakan bumi. Untuk itu, setiap langkah dan kebijakan ekonomi yang diambil oleh manusia untuk memakmurkan alam semesta tidak boleh bertentangan dengan ketentuan yang digariskan oleh Allah yang Maha Memiliki. Konsep keseimbangan merupakan karakteristik dasar ekonomi Islam, karena Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan seimbang. Salah satu wujud keseimbangan kepemilikan manusia adalah adanya kepemilikan publik sebagai pemyeimbang kepemilikan individu. [13]
Berbeda dengan kepemilikan kapitalis, sistem ini hanya mengenal bahwa kepemilikan itu bersifat mutlak milik pribadi. Sedangkan ekonomi sosialis kepemilikan itu masih bersifat terbatas.
Terlihat sepintas ekonomi Islam adalah suatu sistem ekonomi yang ditunggu selama ini untuk memperbaiki permasalahan ekonomi di dunia akibat kesalahan-kesalahan sistem terdahulu. Namun perlu digaris bawahi bahwa sistem ini tergolong baru muncul setelah meredup lama. Jadi diperlukan pembaharuan atau penyesuaian agar lebih mampu bersaing bahkan mengganti sistem ekonomi yang lain.







BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Sistem Ekonomi Kapitalis adalah suatu sistem yang mengatur perekonomian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan aspek kebebasan tiada yang menghalangi.
Sistem Ekonomi Sosialis adalah suatu sistem yang mengatur perekonomian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang aturan itu ditetapkan oleh negara sebagai penguasa dalam mengambil keputusan dan pembagian hasil kekayaan.
Sistem ekonomi Islam adalah suatu sistem ekonomi yang mengatur perekonomian untuk memenihi kebutuhan sehari-hari yang dalam proses kerjanya sesuai dengan ajaran syariat Islam.
Perbedaan konsep ekonomi antara ketiga sistem ini adalah dilihat dari Sumber Kekayaan, Kepemilikan, dan  Tujuan Gaya Hidup perorangan seperti berikut:
1.    Kapitalis
a.    Sumber kekayaan sangat langka.
b.    Setiap pribadi di bebaskan untuk memiliki semua kekayaan yang di perolehnya.
c.    Kepuasan pribadi.
2.    Sosialis
a.    Sumber kekayaan sangat langka.
b.    Sumber kekayaan di dapat dari pemberdayaan tenaga kerja (buruh).
c.    Kesetaraan penghasilan di antara kaum buruh.
3.    Islam
a.    Sumber Kekayaan alam semesta dari ALLAH SWT
b.    Sumber kekayaan yang kita miliki adalah titipan dari ALLAH SWT
c.    Untuk mencapai ke makmuran/sukses (Al-Falah), di dunia dan akhirat
B.  Saran
Kita sebagai calon sarjana Ekonomi Syariah harus mampu memperkenalkan sistem ekonomi yang telah kita pelajari selama ini melalui pengaplikasian terhadap diri sendiri.






DAFTAR PUSTAKA

Apridar,  Teori Ekonomi Sejarah dan zperkembangannya. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010
Nasution, Mustafa Edwin. Pengenalan Ekslusif: Ekonomi Islam. Jakarta: Kencana, 2007
Http://organisasi.org/Online. Minggu, 18 Maret 2012. Pukul 16.00 WIB.
Http//inayafrifa.wordpress.com/2011/11/29/sistem-ekonomi-liberal/Online Minggu, 18 Maret 2012. Pukul 16.00 WIB.
Http://nibrahosen.multiply.com/journal/item/16/Perbedaan_Ekonomi_kapitalis-Islam dan Sosialis.?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem/Online. Minggu, 18 Maret 2012. Pukul 16.00 WIB.








0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates